Jumat, 12 Februari 2010

cerpen

Panggil Aku “Miss Late”

Kakiku menyusuri trotoar jalan yang sempit. Pagi itu semua aktivitas dimulai, di pagi Senin yang melelahkan. Hari di mana aku harus mengumpulkan tugas kimia dan fisika, yang di dalamnya terdapat banyak rumus yang tak kumengerti. Serta tak luput hafalan Bahasa Prancis, yang jelas tujuan pembelajarannya (mungkin berguna bagi mereka yang bisa ke Prancis dan bertemu Zinedine Zidane). Tapi pelajaran itu sungguh sangat membosankan bagi orang sepertiku. Karena untuk bermimpi pergi ke negara se-Asia saja aku tak sanggup, apalagi sampai ke benua Eropa yang di dalamnya terdapat banyak ilmuwan terkenal itu.

Berbeda sekali dengan Stela yang sudah berkeliling dunia (ceritanya pada saat pelajaran bahasa Indonesia). Aku benci mendengarnya. Oh Tuhan, rasanya aku ingin kembali ke rumah dan bilang kepada ibu bahwa kepalaku sakit sekali memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Tapi aku harus optimis, walaupun aku sudah tahu nanti sesampainya di sekolah, aku akan belajar di luar hingga pelajaran pertama usai. Karena belum bisa mengumpulkan tugas kimia tepat waktu. Sungguh, hari-hariku tak lepas dari penderitaan.
Dugaanku benar, Ibu Zenith tak sedikitpun kasihan padaku, yang tiap harinya menderita karena PR yang menumpuk di rumah. Dia memarahiku habis-habisan dan membuang 15 menit waktu mengajarnya hanya untuk menceramahiku tentang kebiasaan jelekku. “Kamu ini, kapan sih mau berubah! Nggak pernah rapi, sering terlambat ke sekolah. Bahkan kebiasaan terlambat kamu itu juga menular dalam mengantar tugas. Mau jadi apa kamu, Joan?” ceramahnya padaku.
“Tapi hari ini saya nggak terlambat kok, Bu…” belaku.

Ibu Zenith semakin berapi-api mendengar pembelaanku, hingga akhirnya aku pun kalah di meja hijau. Dan kartu merah yang dilayangkan wasit Zenith membuatku terpaksa keluar dari lapangan dan meninggalkan kompetisi ini. Sungguh melelahkan menunggu di luar hingga pelajaran pertama usai.
Pagi ini, kimia sudah membuatku apes. Belum lagi menjadi pusat perhatian anak-anak di kelas sebelah. Ya Tuhan, apakah hamba-Mu yang manis ini pantas diperlakukan seperti ini hanya karena belum menyelesaikan tugas ibu guru yang sering menatapku seperti sedang melihat kutu di rambut gondrong Pak Tedye? Benar-benar tidak adil.

Akhirnya hukumanku pun berakhir. Aku masuk ke kelas dengan rasa bangga seolah baru saja pulang dari perang dan membawa kemenangan, layaknya Sarwo Edhi Wibowo yang menjadi pemimpin dan berhasil menguasai pemberontakan di Jakarta dalam penumpasan G-30-S. “Hari yang melelahkan,” ucapku sambil meletakkan tas di atas meja. Stela tertawa kecil, menatapku dari ujung kaki hinggga ujung rambut dan mulai berbisik. Aduh, apalagi yang dibicarakan nenek sihir itu.
Pelajaran kedua dimulai. Pak Dede masuk dengan membawa tumpukan kertas. Hatiku mulai gelisah, takut, dan… “Hari ini kita ulangan”

Deeeer…kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulut ahli fisika di sekolahku yang terkenal sering membuat kejutan untuk muridnya itu, termasuk yang satu ini. “Ulangan dadakan.” Kalimat yang tadinya membuat hatiku gelisah dan takut itu kini berubah menjadi malapetaka. Yah, musibah kedua di hari Senin. Anak-anak di kelas komplain, protes, de el el. Termasuk yang benar-benar diragukan kemampuannya dalam hal berhitung dan menghafal rumus. “Tidak ada yang bicara, hanya ada kertas selembar dan pena!” ucapnya sambil menghitung lembaran kertas ulangan yang akan dibagikan.
Tidak ada yang kami lakukan selain menerima takdir. Sungguh menyedihkan. Kertas ulangan mulai dibagikan dan kini giliran untukku.

“Apa kamu sudah siap untuk ulangan, miss late?” Tanya Pak Dede sambil tersenyum sinis. Kumisnya yang bergaya ala Adolf Hitler tak lagi tampak lucu seperti hari-hari biasanya. Aku hanya terdiam dan sedikit tersenyum gelisah. Aku yakin dia sudah bisa membaca jawaban di jidatku yang sudah tertulis rapi “Saya Belum Siap.” Hari ini ku mohon ada mukjizat dan Joseph Black, John Dalton serta Prescott Joule berada di sampigku saat ulangan nanti.

Perangpun berakhir. Adolf Hitler sudah keluar lima menit yang lalu. Stela terlihat gelisah. Aku tahu kemampuannya dalam hal ini tak berbeda jauh denganku. Kegelisahanku berakhir. Dan masih ada waktu seminggu untuk merefleksikan telingaku, sebelum minggu depan diceramahi habis-habisan oleh ibu. Karena aku yakin nilai ulanganku kali ini pasti di bawah limapuluh. Sebab orang-orang pilihanku tadi tak menghampiriku dan memberikan jawaban. Siapa lagi kalau bukan Dalton, Joule, dan si Black. Kita lihat saja nanti.

“Kayaknya hari ini miss late nyantai-nyantai aja nih ulangannya…,” ucap Stela.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, pembual!” balasku sinis
“Kenapa? Nggak suka yah? Miss late..,” tambahnya lagi.
Kali ini sebutan itu terdengar lebih kuat. Hari ini aku terlalu lelah untuk meladeni nenek yang satu ini. Dan aku pilih cara yang satu ini.
“Eh, pembual….lo nggak nyadar yah?” balasku jengkel.
”Apa?” tanya Stela penasaran
“Ada deh. Tapi gue saranin jangan keluar kelas deh, ntar lo bisa malu seumur hidup,” jawabku sambil tertawa, keluar kelas.

Wajahnya pucat pasi. Darahnya menggebu-gebu, penasaran dan sibuk memperhatikan penampilannya. Dan aku pastikan dia bertanya pada teman-teman. “Ada yang salah dengan penampilanku hari ini? Make-up ku? Bajuku? Aksesorisku? Rambut baruku? Atau apa…?” Hahaha, aku suka itu.
***
Pulang sekolah, masih melewati jalan yang sama. Trotoar. Banyak kaki lima.Orangmondar mandir. Uhh… benar-benar sibuk. Kakiku melangkah pasti menuju jalan pulang, perempatan jalan terdekat menuju rumah. Dan di sinilah kutemukan sisi positif dari miss late yang benar-benar sudah membuatku terkenal. Huhh..tak kusangka.

“Terima kasih atas bantuannya kemaren,” ucap seorang pria berpostur tinggi tegap dengan rambut bergaya ala Lee Mong Long dalam serial drama Korea Sassy Girl kesukaanku. Mimpi apa aku semalam, cowok berparas manis ini tiba-tiba memotong jalanku.

“Untuk apa? Kita pernah kenal ya?” Tiba-tiba aku menyesal melontarkan kalimat itu. Bukan. Seharusnya aku bilang, “ya sama-sama…itu belum seberapa.” Tapi tidak mungkin, aku tidak mengenalnya. Dan kebaikan apa yang sudah aku lakukan untuknya, otakku berusaha membuka memori lama, tapi sosoknya benar-benar tak ada di sana.

“Kita memang nggak pernah kenal. Aku Satya,” balasnya sambil mengulurkan tangan.
“Lantas….” “Kamu miss late ‘kan?” Sialan. Harusnya dia bilang, “Kamu Joana anak kelas X.C yang manis itu ‘kan..” Mengapa nama itu yang mengawali pertemuanku dengan pangeran ini… huhhh “Yah… begitulah. Ada apa yah…,” balasku yang mulai gusar.

“Pak De-ku meminta aku mengucapkan rasa terima kasihnya ke kamu. Soalnya kemaren kamu sudah bantuin dia…” ucapnya. Waduh, aku benar-beanr ditipu oleh wajah manisnya yang kukira benar-benar Lee Mong Long. Ternyata logat Jawa itu keluar juga.
“Pak De kamu? Perasaan saya, saya enggak pernah bantuin Pak De kamu deh…salah orang kale…,” jawabku.
“Ndak. Aku ndak mungkin salah. Dia sendiri yang nunjukin orangnya ke aku. Dan orang itu kamu,” tambahnya lagi. Huhh, lama-lama aku dibuat kesal olehnya. “Ok. Langsung aja. Nama Pak De-mu?” tanyaku tanpa basa basi lebih jauh.
“Pak De Suryo. Satpam SMA mu…,” jawabnya.
Ya, Tuhan. Pak Suryo yang sering bukain pintu kalau aku terlambat itu ternyata punya keponakan semanis ini? Ke mana aja gue? Sial..tapi…
“Bantuan apa ya?” tanyaku lagi.
“Minjemin dia uang. Ingatkan?”
Aku mengangguk. Dia menatapku polos dan…
“Namanya bagus ya mbak…,” tambahnya.
Deeeer…nama kutukan itu? Baru kali ini mendapat pujian, dari orang semanis dia. Ya tuhan, aku benar-benar terharu. Hikz..hikz…

Huuuhhhh…pertemuan singkat ini benar-benar membuatku bahagia. Satyo dengan logat Jawa yang menipuku dengan tampang Lee Mong Long ini benar-benar membuatku gelisah siang dan malam. Jangan-jangan aku terkena penyakit berbahaya, Yah…apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Bukankah penyakit itu berbahaya untuk anak seusia aku? Dan kumohon jangan pernah berhenti panggil aku miss late…”***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar